“Kalau ingin membuat sebuah aplikasi, kira-kira masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi titik awal untuk meninjau kembali bagaimana sebuah penelitian seharusnya dimulai. Sebab, penelitian yang baik tidak semata-mata berangkat dari keinginan membuat sesuatu, melainkan berakar dari upaya memahami fenomena dan menemukan solusi atas permasalahan nyata.
Pemahaman fundamental inilah yang menjadi bahasan utama dalam Pelatihan Metode Penelitian Bidang Sosial bagi para ustadzah SMA Ar-Rohmah Putri IIBS pada 9–10 September 2026. Kegiatan yang bertempat di ruang kelas 3.8, Gedung Madinah—gedung pembelajaran SMA Ar-Rohmah Putri IIBS—menghadirkan Dr. Adelia Wardatus Sholeha, S.Pd., M.Pd. sebagai narasumber. Pelatihan ini bertujuan memperkaya wawasan metodologi penelitian sosial para guru sebagai bekal mendampingi santri dalam program Project and Research (P&R).
Memahami Masalah Sebelum Menentukan Solusi
Dalam tradisi riset, keinginan menghasilkan sebuah produk sering kali tampak lebih memikat dibanding ketekunan membedah akar masalah. Peneliti pemula kerap kali sudah memiliki gambaran untuk membangun aplikasi, situs web, atau produk tertentu, baru kemudian sibuk mencari masalah sebagai pembenaran atas ide tersebut. Padahal, alur penelitian ilmiah yang ideal justru berjalan sebaliknya.
Seorang peneliti semestinya mengamati fenomena yang ada, merumuskan masalah, menentukan ruang lingkup yang ingin dipahami, memetakan kebutuhan data beserta teknik perolehannya, hingga menetapkan analisis yang tepat. Melalui alur berpikir yang runtut ini, solusi yang dihadirkan tidak hanya menarik secara konseptual, tetapi juga berpijak pada urgensi yang kuat dan teruji.
Bagi pendidik yang mendampingi program Project and Research, paradigma ini memegang peranan krusial. Santriwati tidak hanya didorong menghasilkan karya, namun juga dibimbing mengenali rasional di balik karya yang digagas. Refleksi kritis seperti “Masalah apa yang sesungguhnya ingin diselesaikan?” membantu santri mengkaji ulang apakah ide riset mereka benar-benar berangkat dari kebutuhan riil di tengah masyarakat.
Menyelaraskan Metode Penelitian dengan Rumusan Masalah
Salah satu fokus utama materi pelatihan adalah penentuan pendekatan penelitian yang presisi, khususnya pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Penelitian kuantitatif digunakan saat peneliti memerlukan data terukur yang dianalisis secara numerik dan statistik. Sementara itu, penelitian kualitatif difungsikan saat peneliti berupaya memahami fenomena secara lebih kontekstual dan mendalam—seperti pengalaman subjek, perspektif personal, motivasi, maupun makna di balik sebuah peristiwa.
Dr. Adelia membagikan analogi aplikatif seputar penelitian kualitatif. Pendekatan kualitatif dapat beranjak dari keraguan peneliti terhadap asumsi awal yang ada di benaknya. Melalui wawancara mendalam, peneliti mengumpulkan data primer untuk membuktikan apakah hipotesis awal tersebut terkonfirmasi atau perlu disesuaikan. Dari sini, pemilihan pendekatan riset dipahami bukan sekadar memilih dikotomi kualitatif atau kuantitatif, melainkan harus selaras dengan pertanyaan penelitian dan luaran informasi yang ingin dicapai.
Dari Telaah Fenomena, Pengumpulan Data, hingga Uji Validitas

Pelatihan ini turut membekali para pendidik dengan panduan praktis pelaksanaan riset di lapangan. Materi meliputi strategi pengumpulan data primer, penelusuran literatur akademik yang relevan, teknik penentuan informan kunci dalam riset kualitatif, hingga kalkulasi penarikan sampel dari suatu populasi.
Para peserta juga diperkenalkan pada riset yang memanfaatkan objek selain manusia, serta pentingnya pengujian validitas dan reliabilitas instrumen pengumpulan data. Tahapan-tahapan tersebut menegaskan bahwa kualitas suatu penelitian tidak hanya dinilai dari hasil akhir temuannya, melainkan dari akuntabilitas proses ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan di setiap jalurnya.
Belajar Metode Penelitian, Meneladani Integritas Ilmiah
Sisi inspiratif lain yang terekam dari pelatihan ini adalah integritas dan kerendahan hati ilmiah dari narasumber. Meskipun telah menuntaskan pendidikan hingga jenjang doktoral, Dr. Adelia senantiasa menjunjung batas keilmuan akademiknya. Beliau secara terbuka membatasi diri untuk tidak memberikan opini di luar disiplin ilmu yang digeluti, terutama jika menyentuh ranah rekayasa teknik maupun ilmu alam murni (IPA).
Sikap ini memberikan keteladanan nyata bagi para guru. Gelar akademik tinggi bukan berarti harus mengetahui segala hal, melainkan mengajarkan kepekaan terhadap batas kompetensi diri. Berani menyatakan bahwa suatu bidang berada di luar keahliannya tanpa mengarang jawaban adalah bagian esensial dari kejujuran ilmiah.
Menyiapkan Pendidik, Membina Generasi Peneliti Muda

Pelatihan metode penelitian sosial ini menjadi ikhtiar berkelanjutan SMA Ar-Rohmah Putri IIBS dalam mengawal keberhasilan program Project and Research. Ketika guru terus memperbarui keilmuannya, mereka tidak dituntut menjadi figur yang serba tahu atas seluruh jawaban, melainkan hadir sebagai fasilitator yang mengarahkan santriwati menemukan metode yang sahih dalam mencari jawaban tersebut.
Riset yang unggul tidak melulu diawali dengan obsesi membuat produk jadi. Ia bermula dari rasa ingin tahu terhadap fenomena sekitar, kepedulian atas problematika umat, dan keberanian menggali pemecahannya melalui kaidah ilmiah. Melalui pembekalan ini, para guru SMA Ar-Rohmah Putri IIBS tengah mempersiapkan santriwati agar tidak hanya tampil sebagai penikmat pengetahuan, melainkan berkembang menjadi periset muda yang berkontribusi aktif melahirkan ilmu pengetahuan baru bagi peradaban.
Penulis: Civa Melati Aulia, S.Kom
Editor: L.Haq
