ARROHMAH.CO.ID – Kabar membanggakan datang dari panggung Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional XXXI Tahun 2026. Almira Islamey Aisyahbella, santri kelas 10 SMA Ar-Rohmah Putri, berhasil menorehkan prestasi gemilang dengan meraih Terbaik 1 Hafizhah Golongan 10 Juz.
Mewakili Provinsi Jawa Timur, Almira berhasil menjadi peserta terbaik pada kategori tersebut setelah melewati rangkaian kompetisi di tingkat nasional. Capaian itu sekaligus menempatkan namanya dalam daftar peserta terbaik MTQ Nasional XXXI yang digelar di Jawa Tengah.
Berdasarkan penetapan Dewan Hakim MTQ Nasional XXXI, Almira menjadi Terbaik 1 Hafizhah Golongan 10 Juz. Posisi berikutnya ditempati Nafisah Almais Aidiyah dari DKI Jakarta sebagai Terbaik 2 dan Nur Fadilla Aulia Luthfi dari Jawa Tengah sebagai Terbaik 3.
Prestasi tersebut terasa semakin istimewa karena Almira masih duduk di kelas 10. Di usia pelajar, ia telah mampu membawa nama Jawa Timur bersaing di panggung musabaqah tingkat nasional.
Bagi SMA Ar-Rohmah Putri, keberhasilan Almira bukan hanya sebuah piala atau gelar juara. Ada proses panjang berupa hafalan, murojaah, latihan sambung ayat, pembinaan intensif, dukungan keluarga, serta pendampingan para pembina yang turut mengantarkan langkahnya hingga ke Semarang.
MTQ Nasional XXXI Diikuti Kafilah dari Berbagai Provinsi
MTQ Nasional XXXI Tahun 2026 berlangsung di Jawa Tengah dengan Kota Semarang sebagai pusat penyelenggaraan. Rangkaian kegiatan berlangsung pada 11–20 September 2026 dan mengusung tema “Menebar Cahaya Al-Qur’an dalam Harmoni Menuju Indonesia Emas yang Berkeadaban.”
Sebanyak 38 kafilah provinsi tercatat ambil bagian dalam perhelatan nasional tersebut. Para peserta datang dengan membawa hasil pembinaan dari daerah masing-masing untuk kemudian tampil dalam berbagai cabang dan golongan musabaqah.
Rangkaian MTQ Nasional dimulai dengan kedatangan dan registrasi kafilah. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan agenda Malam Ta’aruf, Pawai Ta’aruf, hingga pelantikan dewan hakim.
Pembukaan MTQ Nasional XXXI berlangsung di Lapangan Pancasila Simpang Lima, Semarang, pada Sabtu (12/9/2026) malam. Sementara pelaksanaan musabaqah berlangsung di sejumlah lokasi yang tersebar di Kota Semarang sebelum rangkaian kegiatan ditutup pada 20 September 2026. Bagi para peserta, termasuk Almira, panggung nasional tersebut menjadi muara dari proses panjang yang telah dilalui sejak tingkat daerah.
Almira Jadi Terbaik 1 Hafizhah Golongan 10 Juz
Dalam cabang Hafalan Al-Qur’an Golongan 10 Juz kategori hafizhah, persaingan mempertemukan peserta dari berbagai provinsi. Hasil akhirnya menempatkan Almira Islamey Aisyahbella dari Jawa Timur sebagai Terbaik 1. Nafisah Almais Aidiyah dari DKI Jakarta menjadi Terbaik 2, sedangkan Nur Fadilla Aulia Luthfi dari Jawa Tengah meraih Terbaik 3.
Dewan Hakim juga menetapkan peserta harapan pada kategori tersebut, yakni Latifah Naila dari Riau, Qonitah Syukroparinduri dari Sumatera Utara, dan Siti Nurul Faidah dari Jawa Barat. Hasil itu sekaligus menjadi bukti bahwa pembinaan hafalan Al-Qur’an yang dilakukan secara berjenjang dapat mengantarkan peserta didik untuk tampil di tingkat nasional.
Bagi Almira, perjalanan menuju podium tentu tidak terjadi dalam semalam. Ada ayat-ayat yang harus terus diulang. Ada sambungan ayat yang harus dilatih berkali-kali. Ada pula rasa lelah yang harus ditaklukkan agar hafalan tetap kuat ketika berhadapan dengan suasana perlombaan.
Bukan Sekadar Menghafal, Murojaah Jadi Kunci Persiapan
Mengikuti kompetisi hafalan Al-Qur’an tingkat nasional tentu membutuhkan persiapan yang tidak sederhana. Almira mengungkapkan, salah satu persiapan utama yang dilakukan sebelum tampil adalah murojaah atau mengulang kembali hafalan Al-Qur’an. Aktivitas tersebut menjadi rutinitas penting untuk menjaga hafalan tetap lancar dan kuat.
Selain murojaah mandiri, Almira juga rutin berlatih sambung ayat bersama ayahnya. Menariknya, latihan tersebut tidak selalu dilakukan secara langsung. Karena kesibukan dan jarak, latihan sambung ayat juga dilakukan melalui video call. Cara sederhana tersebut menjadi bagian dari ikhtiar keluarga untuk membantu Almira mempersiapkan diri menghadapi kompetisi.
“Persiapan yang saya lakukan sebelum MTQ Nasional, selain murojaah, saya banyak berlatih sambung ayat bersama papah saya lewat video call, dan mengikuti pembinaan di Kantor BPSDM Surabaya setiap dua minggu sekali bersama para Pembina LPTQ Provinsi dan Pembina Nasional,” ujar Almira.
Latihan yang dilakukan secara konsisten akhirnya menjadi bekal ketika Almira harus berhadapan dengan peserta terbaik dari berbagai daerah.
Dibina Secara Berkala di BPSDM Surabaya
Persiapan Almira juga diperkuat melalui pembinaan yang dilakukan secara berkala di Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Surabaya. Pembinaan tersebut dilaksanakan setiap dua minggu sekali bersama para pembina dari Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi dan pembina nasional.
Pembinaan berkelanjutan menjadi salah satu bagian penting dalam persiapan menuju MTQ Nasional. Peserta tidak hanya dituntut memiliki hafalan yang kuat, tetapi juga harus siap secara mental ketika tampil di arena kompetisi. Proses pembinaan tersebut kemudian berjalan beriringan dengan latihan yang dilakukan bersama keluarga.
Di satu sisi ada pembina yang mengarahkan teknik dan kesiapan perlombaan. Di sisi lain ada orang tua yang terus mendampingi dari rumah. Dua ruang pembinaan tersebut menjadi bagian dari perjalanan Almira menuju Semarang.
Perjalanan Almira Menuju MTQ Nasional Dimulai dari Tingkat Kota
Sebelum tampil di panggung nasional, Almira harus melewati tahapan seleksi yang panjang. Perjalanannya dimulai dari Penyisihan MTQ Kota Nganjuk. Dari kompetisi tersebut, peserta yang meraih prestasi kemudian mengikuti proses pembinaan di tingkat Kabupaten Nganjuk.
Setelah melalui pembinaan kabupaten, Almira melanjutkan perjuangan pada penyisihan MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur yang digelar di Kota Jember. Prestasinya di tingkat provinsi kemudian membuka jalan menuju kompetisi nasional. Almira terpilih menjadi salah satu wakil Jawa Timur untuk berlaga pada MTQ Nasional XXXI di Semarang.
Rangkaian tersebut menunjukkan bahwa gelar Terbaik 1 yang diraih Almira bukanlah hasil yang muncul secara tiba-tiba. Ada seleksi demi seleksi yang harus dilewati sebelum akhirnya mendapatkan kesempatan tampil di tingkat nasional. Informasi mengenai perlombaan tersebut juga diperoleh Almira dari salah seorang gurunya, Ustadzah Laely, yang sekaligus merupakan pembina di tingkat kabupaten.
Dibimbing Para Pembina Berpengalaman
Dalam perjalanan menuju MTQ Nasional XXXI, Almira mendapatkan bimbingan dari sejumlah pembina. Di tingkat nasional, ia dibina oleh KH. Ahmad Farizi, M.Pd.I. Sementara pembinaan tingkat provinsi melibatkan Dr. Nur Yasin Shirotol Mustaqim, M.A. dan Ustadzah Ummu Habibah, S.Sy.
Di tingkat kabupaten, Almira mendapatkan pendampingan dari Kyai Munir, Bu Nyai Miftahul Jannah, serta Ustadzah Laely. Kolaborasi para pembina tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan Almira. Pembinaan dilakukan secara bertahap mengikuti jenjang kompetisi yang harus dilewati.
Dari tingkat kota, naik ke kabupaten, kemudian provinsi, hingga akhirnya mencapai panggung nasional. Setiap tahapan memberikan pengalaman baru. Setiap proses juga menjadi ruang untuk memperbaiki kekurangan sebelum menghadapi kompetisi berikutnya.
Doa Orang Tua Mengiringi Perjalanan Almira
Di balik keberhasilan seorang anak, sering kali terdapat cerita panjang yang tidak terlihat di atas panggung. Begitu pula perjalanan Almira. Menurut penuturannya, kedua orang tuanya tidak hanya memberikan dukungan dalam bentuk motivasi. Mereka juga membekali perjuangan putrinya dengan doa dan ikhtiar spiritual sejak Almira masih kecil.
Salah satunya melalui puasa Daud, membaca Al-Qur’an, dan bersedekah. “Orangtua saya membekali saya dengan doa dan tirakat, sejak dari kecil sampai sekarang, kedua orangtua saya mentirakati saya dengan puasa Daud dan membaca Al-Qur’an dan sedekah,” tutur Almira.
Bagi keluarga, keberhasilan Almira di MTQ Nasional bukan semata-mata hasil latihan. Ada doa yang terus dipanjatkan dan ikhtiar yang dilakukan bersama. Dukungan keluarga tersebut menjadi kekuatan tersendiri bagi Almira ketika harus menjalani proses pembinaan dan kompetisi yang panjang.
SMA Ar-Rohmah Putri Berikan Dukungan Penuh
Dukungan juga datang dari lingkungan sekolah dan pesantren tempat Almira menimba ilmu. Almira mengaku bersyukur mendapatkan kesempatan belajar di SMA Ar-Rohmah IBS Putri Malang. Menurutnya, lingkungan pendidikan yang mendukung menjadi salah satu hal yang membuatnya nyaman menjalani proses pendidikan sekaligus mengembangkan potensi di bidang hafalan Al-Qur’an.
“Alhamdulillah, SMA Ar-Rohmah IBS Puteri Malang memberikan dukungan penuh kepada saya dalam mengikuti MTQ Nasional XXXI tahun ini di Semarang. Saya senang sekali mondok di SMA Ar-Rohmah IBS Putri Malang karena Ar-Rohmah adalah pondok terbaik di Jawa Timur, pondoknya santri-santri juara,” ungkapnya.
Dukungan sekolah menjadi bagian penting karena seorang santri yang mengikuti kompetisi nasional tetap harus menjalankan tanggung jawab akademik dan kehidupan pesantren. Dengan dukungan lingkungan, proses tersebut dapat dijalani dengan lebih terarah.
Prestasi Almira Jadi Kebanggaan Jawa Timur
Keberhasilan Almira membawa nama Jawa Timur menjadi salah satu catatan membanggakan dalam MTQ Nasional XXXI. Terlebih, kategori yang diraih merupakan Hafalan Al-Qur’an Golongan 10 Juz untuk hafizhah, sebuah kompetisi yang menuntut kekuatan hafalan dan kesiapan tampil di hadapan dewan hakim.
Jawa Timur sendiri mengirimkan peserta pada berbagai cabang dan golongan dalam MTQ Nasional XXXI. Almira menjadi salah satu peserta Jawa Timur yang berhasil mencapai posisi terbaik dalam kategori yang diikutinya. Data resmi hasil MTQ Nasional XXXI mencatat namanya sebagai Terbaik 1 Hafizhah Golongan 10 Juz.
Bahagiakan Orang Tua dengan Al-Qur’an
Ada pesan khusus yang disampaikan Almira setelah meraih prestasi tersebut. Ia tidak ingin pengalaman menghafal Al-Qur’an hanya berhenti sebagai pencapaian pribadi. Ia justru mengajak teman-teman seusianya untuk mulai mencintai dan menghafalkan Al-Qur’an sebagai bentuk bakti kepada orang tua.
“Ayo teman-teman bahagiakan kedua orang tua dengan menghafal Al-Qur’an, karena orangtua tidak cukup dengan kita meraih prestasi di dunia, tapi membutuhkan syafaat untuk di akhirat,” pesannya.
Pesan itu menjadi bagian menarik dari perjalanan Almira. Gelar Terbaik 1 yang diraih di tingkat nasional tidak hanya ia maknai sebagai kemenangan dalam sebuah perlombaan. Ada nilai yang ingin ia bagikan kepada teman-teman sebaya. Bahwa menghafal Al-Qur’an dapat menjadi perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran. Tidak selalu mudah. Namun, proses tersebut dapat menjadi bagian dari pendidikan karakter dan bentuk kedekatan dengan Al-Qur’an.
